Saturday, December 1, 2018

Apakah Perawat Bisa Buka Praktik Mandiri ?????




Hello good People, Pada kesempatan kali ini izinkan saya berbagi tentang karya tulis saya bersama teman-teman saya pada saat masih menempuh pendidikan di Prodi Magister Keperawatan UMY  yang membahas tentang Praktik Mandiri Perawat, semoga tulisan ini Bermanfaat bagi rekan-rekan semua


''Praktik  Mandiri  Perawat  Sebagai
Alternative  Solusi  Masalah  Kesehatan  Anda


Sudahkah  Anda  Tahu ?''

Di era modern saat ini banyak penyakit yang timbul disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan, pola aktifitas,  serta kebiasaan lain seperti merokok dan konsumsi obat-obatan. Sebagai akibatnya berbagai masalah kesehatan sekarang ini banyak terjadi dimasyarakat seperti  hipertensi, gagal ginjal, diabetes mellitus, kanker, berbagai penyakit kelainan darah  atau yang sekarang ini kita kenal dengan penyakit tidak menular.
 Pada masa ini berbagai fasilitas kesehatan telah menyediakan pelayanan kepada masyarakat untuk mencari pengobatan baik secara medis, non medis termasuk pengobatan komplementer.  Profesi keperawatan mengembangkan layanan praktik mandiri keperawatan kepada masyarakat dalam mencari solusi terhadap masalah kesehatannya. Pelayanan praktik mandiri perawat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan wewenang seorang perawat profesional. Pelayanan keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif atau holistik ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Praktik mandiri perawat telah diatur dalam  Peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/148/I/2010 dan perubahan peraturan nomor 17 Tahun 2013 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat.  Dengan dikeluarkannya payung hukum tersebut maka praktik mandiri perawat menjadi legal. Selain itu praktik mandiri perawat semakin diperkuat dengan di sahkannya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, yang diantaranya membahas tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat.
Perawat yang membuka praktik keperawatan wajib memiliki SIPP (Surat Izin Praktik Perawat) dan hanya berlaku untuk satu tempat praktik perawat (tertuang dalam UU keperawatan pasal 19 dan 20) dan perawat yang melakukan praktik wajib memasang Papan Nama Praktik (Tertuang dalam UU Keperawatan pasal 21). Atas dasar hukum tersebut maka masyarakat tidak perlu ragu lagi untuk memanfaatkan fasilitas Praktik Mandiri Perawat dalam mencari solusi kesehatan untuk mengatasi penyakit yang di alaminya.
Contoh penyelenggaraan praktik mandiri perawat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan kota disekitarnya yang telah dilaksanakan, diantaranya adalah Pusat perawatan luka Griya Puspa Yogyakarta yang bergerak pada pelayanan keperawatan spesialis luka, Pondok Holistik Indonesia (PHI) yang memberikan pelayanan keperawatan komplementer seperti akupuntur dan bekam, Jogja Home Care yang memberikan pelayanan visite keperawatan dirumah pasien, selain itu di kota solo telah dibuka Omah luka solo yang bergerak juga dibidang spesialis perawatan luka, dan Budhi Nersalindo yang bergerak pada pengembangan keperawatan berbasis herbal yang memberikan pelayanan praktik keperawatan herbal pada masyarakat, dan animo masyarakat Yogyakarta serta kota disekitarnya cukup tinggi untuk melakukan pengobatan di fasilitas kesehatan seperti praktik mandiri perawat.
Bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh perawat kepada masyarakat adalah  dalam bentuk pelayanan Preventif, Promotif, Kuratif dan Rehabilitatif.  
Bentuk pelayanan preventif dan promotif adalah seperti deteksi dini dan indentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya suatu penyakit pada individu atau keluarga dan masyarakat, serta memberikan pendidikan atau penyuluhan dan konseling pada individu, keluarga atau masyarakat yang beresiko atau telah mengalami sakit. Berdasarkan Rakernas Komisi II Regional Tengah tentang Paradigma Sehat Upaya Promotif Dan Preventif Dalam Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan disebutkan bahwa salah titik fokus dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015-2019 adalah peningkatan upaya promotif dan preventif oleh tenaga kesehatan. Hal tersebut disebabkan karena masih tingginya angka mortalitas dan angka morbiditas di Indonesia, yang menunjukkan belum optimalnya upaya promotif dan preventif, serta masih lebih menekankan pada aspek kuratif. Dengan hadirnya Praktik Mandiri Perawat maka upaya preventif dan promotif dapat menjadi lebih baik untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat.
Pelayanan kuratif yang dapat dilakukan perawat adalah Pengobatan dasar dengan obat terbatas, bantuan kegawat daruratan medis sesuai kewenangan dan pengobatan komplementer. Terapi komplementer yang dilakukan perawat didukung oleh permenkes nomor 1109/MENKES/PER/IX/2007 yaitu yang berwenang melakukan pengobatan komplementer adalah tenaga kesehatan yang sudah ditetapkan dan berdasarkan kaidah ilmiah. Bentuk terapi komplementer yang berkembang diantaranya seperti akupunktur,  bekam, hipnoterapi, reiki, pengobatan herbal, perawatan luka dan lain sebagainya. Terapi komplementer yang diberikan oleh tenaga kesehatan seperti perawat pastilah lebih aman dan terjamin karena kualifikasinya memang dibidang kesehatan
 Selanjutnya bentuk pelayanan rehabilitatif dalam Praktik Mandiri Perawat  meliputi  pemantauan keteraturan berobat sesuai program rehabilitasi, Kunjungan rumah (home visit/home health nursing) sesuai rencana rehabilitasi, pelayanan keperawatan dasar rehabilitasi secara langsung (direct care) yaitu kontak langsung atau face to face dengan pasien seperti untuk perawatan luka, pemasangan infus dll, maupun pelayanan rehabilitasi tidak langsung (indirect care) seperti layananan konsultasi kesehatan.
Dalam operasionalnya  praktik mandiri perawat juga dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan  seperti ahli gizi, fisioterapi, Kesehatan Masyarakat, dokter dan profesi kesehatan lainnya.  Perawat juga memiliki Spesialis di bidang keperawatan seperti Spesialis Perawatan luka, Spesialis Keperawatan medikal bedah, Spesialis keperawatan jiwa, Spesialis Keperawatan anak, Spesialis keperawatan maternitas dan masih banyak lagi.
 Anda memiliki masalah kesehatan, Praktik Mandiri Perawat bisa jadi solusi kesehatan anda!!!­ Sudahkan anda tahu ???


By.      Ns. Nurcahyati M.Kep
           Ns. Taufik Septiawan S.Kep
     Ns. Dian Kartika Sari S.Kep
     Ns. Nurun Lasaara S.Kep

Di Buat Pada Saat Menempuh Pendidikan pada Program Studi Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Juga telah di Unggah di media Elektronik Kompasiana Pada Tahun 2017.

Tulisan ini  Dapat Juga dibaca pada Link Tulisan Kami di Kompasiana :
https://www.kompasiana.com/tridi8789/58d0eb8c357b6133199f9cea/praktik-mandiri-perawat-sebagai-alternatif-solusi-masalah-kesehatan-anda-sudahkah-anda-tau

 Regulasi praktik mandiri perawat setiap daerah pada masing-masing provinsi tidaklah sama, untuk itu pendekatan oleh organisasi perawat Indonesia (PPNI) di masing masing daerah pada pihak berkaitan (Stakeholder) sangatlah penting untuk memperlancar kegiatan praktik Mandiri perawat

Berikut adalah beberapa foto dari praktik perawat mandiri yang ada











Friday, November 30, 2018

Video Cara Pencegahan Penularan Leptospirosis

Video Cara Pencegahan Penularan Leptospirosis




Dokumentasi kegiatan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan leptospirosis


Thursday, November 29, 2018

Video Interprofesional collaboration antar team kesehatan



PENGALAMAN SELAMA STUDENT EXCHANGE DI TAIWAN (PART 1)


        Hey Guys, kali ini saya ingin berbagi pengalaman selama menempuh kegiatan pertukaran pelajar di Taiwan. kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bagian dari proses yang harus dilakukan selama menempuh pendidikan Magister Keperawatan di UMY. Pada saat itu negara yang menjadi tujuan kami adalah Taiwan, Thailand, Malaysia, dan China. Berdasarkan hasil undian akhirnya saya mendapatkan negara Taiwan beserta 4 orang rekan lainnya untuk dikunjungi dalam rangka kegiatan Student Exchange. Kota yang akan menjadi tujuan kami adalah Changhua District, dimana kami akan menimba ilmu dan pengalaman di Rumah Sakit Changhua Christian Hospital beserta beberapa rumah sakit cabangnya seperti Erlin christian Hospital dan Yunlin christian Hospital.

         Perjalanan kami dimulai dari Bandara Adi Sudjipto Yogyakarta, dimana kami akan menempuh perjalanan dari jakarta dan singgah di malaysia sebelum akhirnya  terbang menuju Taiwan tepatnya di Taoyuan International Airport

         Saat tiba di Taoyuan International Airport saya melanjutkan perjalanan menuju Taipei ibu kota taiwan dengan menggunakan MRT. Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan bukit tinggi nan hijau dan kota-kota indah yang di lewati.





      Saya tiba di Taipe pada saat sebelum magrib dan segera menuju penginapan di Space Inn Xinyi Hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak. Tujuan Saya selanjutnya adalah Menuju 101 Building yang menjadi Primadona di Taiwan yaitu salah satu gedung tertinggi di dunia. Fasilitas untuk jalan kaki sangat nyaman, dan kota taipei sangatlah bersih dan rapi bagi saya. Tempat saya menginap tidak jauh dari 101 Building mungkin hanya sekitar 5 sampai 10 menit berjalan kaki kita sudah bisa sampai di lokasi



      Saya pun segera memanfatkan Kamera pada Handphone saya dan juga tongsis yang saya bawa untuk mengambil gambar alias Selfie. Negara Taiwan merupakan negara kecil tapi memiliki perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat yang menurut saya patut di tiru oleh negara kita baik dari segi transportasi, tehnologi dan lain sebagai macamnya.

     Setelah menempuh perjalanan yang panjang dari indonesia menuju Taiwan, saya memutuskan untuk beristirahat setelah puas berselfie ria di sekitar 101 Building, Karena esok harinya saya harus kembali ke Taoyuan International Airport yang menjadi titik kumpul saya dengan team saya yang bermalam di Malaysia dan selanjutnya menuju ke Changhua District untuk menimba ilmu selama kurang lebih tiga minggu.

   Pengalaman selama saya di Changhua Christian Hospital akan saya sambung di cerita selanjutnya yaitu Pengalaman Selama Student Exchange di Taiwan (Part 2) yang tentunya tak kalah seru karena rumah sakit ini memiliki manajamen dan tehnologi yang sangat tinggi dalam memberikan pelayanannya. Banyak alat inovatif yang sangat membantu dalam kegiatan perawatan maupun medis. PENASARAN YA.. Sampai Jumpa lagi ya

Terima kasih ya sudah berkunjung ke blog saya. Salam Sukses

Tuesday, December 3, 2013

Askep Dermatitis



DERMATITIS


A. KONSEP MEDIS
1.   DEFINISI
Dermatitis adalah suatu peradangan pada dermis dan epidermis yang dalam perkembangannya memberikan gambaran klinik berupa efloresensi polimorf dan pada umumnya memberikan gejala subjektif gatal. (Mulyono :1986)
Dermatitis adalah peradangan epidermis dan dermis yang memberikan g ejala subjektif gatal dan dalam perkembangannya memberikan efloresensi yang polimorf. (Junaidi Purnawan : 1982)

2.   ETIOLOGI
Berdasarkan etiologinya dermatitis dibagi dalam type :
a.    Dermatits kontak
- Dermatitis kontak toksis akut
Suatu dermatitis yang disebabkan oleh iritan primer kuat / absolut. Contok : H2SO4 , KOH, racun serangga.
- Dermatitis Kontak Toksis Kronik
Suatu dermatitis yang disebabkan oleh iritan primer lemah / relatif. Contoh : sabun , detergen.
- Dermatitis Kontak Alergi
Suatu dermatitis yang disebabkan oleh alergen . Contoh : logam (Ag, Hg), karet, plastik, dll.
b.   Dermatitis Atopik
Suatu peradangan menahun pada lapisan epidermis yang disebabkan zat-zat yang bersifat alergen. Contoh : inhalan (debu, bulu).
c.    Dermatitis Perioral
Suatu penyakit kulit yang ditandai adanya beruntus-beruntus merah disekitar mulut. Penyebabnya tidak diketahui, menyerang wanita berusia 20-60 tahun dan bisa muncul pemakaian salep kortikosteroid diwajah untuk mengobati suatu penyakit.
d.   Dermatitis Statis
Suatu peradangan menahun pada tungkai bawah yang sering meninggalkan bekas, yang disebabkan penimbunan darah dan cairan dibawah kulit, sehingga cenderung terjadi varises dan edema.

3.   PATOFISIOLOGI
Dermatitis merupakan peradangan pada kulit, baik pada bagian dermis ataupun epidermis yang disebabkan oleh beberapa zat alergen ataupun zat iritan.
Zat tersebut masuk kedalam kulit yang kemudian menyebabkan hipersensitifitas pada kulit yang terkena tersebut.
Masa inkubasi sesudah terjadi sensitisasi permulaan terhadap suatu antigen adalah 5-12 hari, sedangkan masa reaksi setelah terkena yang berikutnya adalah 12-48 jam.
Adapun faktor-faktor yang ikut mendorong perkembangan dermatitis adalah gesekan, tekanan, balutan, macerasi, panas dan dingin, tempat dan luas daerah yang terkena dan adanya penyakit kulit lain.

4.   TANDA DAN GEJALA
a. Dermatitis Kontak
Gatal-gatal , rasa tidak enak karena kering, kulit berwarna coklat dan menebal.
b. Dermatitis Atopik
Gatal-gatal , muncul pada beberapa bula pertama setelah bayi lahir, yang mengenai wajah, daerah yang tertutup popok, tangan, lengan dan kaki.
c. Dermatitis Perioral
Gatal-gatal bahkan menyengat, disekitar bibir tampak beruntus-beruntus kecil kemerahan.
d. Dermatitis Statis
Awalnya kulit merah dan bersisik, setelah beberapa minggu / bulan , warna menjadi coklat.

5.   KOMPLIKASI
1. Katarak
2. Infeksi   oleh bakteri , virus da jamur

6.   PENGOBATAN
1. Terapi umum
- Hindari faktor penyebab.
- Jaga kulit jangan sampai kering à pelembab.
- Berikan pengertian untuk tidak digaruk.
2. Terapi Lokal
- Salep / krim / losio kortikosteroid.
3. Terapi Sistemik
- Anti histamin.
- Kortikosteroid ; dosis 40-60 mg.
- Antibiotik ; Eritromisin, Dewasa 4x 250 mg/hr.
                                                                          4x 125 mg/hr.

B.   KONSEP KEPERAWATAN
1.   PENGKAJIAN
- Kaji faktor penyebab terjadinya gangguan.
- Kaji pengetahuan tentang faktor penyebab dan metode kontak.
- Kaji adanya pruritas, pain dan burning.
- Kaji peningkatan stress yang diketahui pasien.
- Kaji tanda-tanda infeksi.
- Riwayat infeksi yang berulang-ulang.
- Kaji faktor yang memperparah.
- Pada    reaksi ringan kulit terlihat merah dan terdapat vesicle.
- Pada reaksi berat terdapat ulceration, bulla buosion.


2.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri : gatal berhubungan dengan inflamasi pada kulit.
2. Gangguan body image berhubungan dengan lesi pada kulit.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan garukan.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang alergen-alergen dikulit.
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tahanan primer tidak adekuat.

3.   INTERVENSI
Dx. 1. Nyeri ; Gatal berhubungan dengan inflamasi pada kulit.
Tujuan : Mengurangi rasa gatal.
Tindakan :
- Hindarikan semua bahan yang menyebabkan.
- Jelaskan pengertian untuk tidak digaruk.
- Kolaborasi dokter pemberian anti histamin.
Dx. 2. Gangguan body image berhubungan dengan lesi pada kulit.
Tujuan : Menyatakan penerimaan situasi diri.
                           Pasien memiliki konsep diri yang positif.
Tindakan :
- Kaji makna kehilangan / perubahan pada pasien.
- Berikan penguatan positif terhadap kemampuan dan dorong usaha  untuk mengikuti tujuan rehabilitasi.
- Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat dan beri informasi bagaimana mereka dapat membantu pasien.
Dx. 3. Ganggun integritas kulit berhubungan dengan garukan.
Tujuan : Menunjukkan regenerasi jaringan.
                          Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka.
Tindakan :
- Kaji warna, ukuran, perhatikan jaringan nekrotik.
- Berikan kompres dingin /  larutan PK untuk lesi eksudatif dan basah.
- Jangan terlalu kuat mengusap-ngusap kulit dengan handuk.
- Anjurkan untuk memakai stoking.
- Kurangi kontak langsung pada area luka.
- Anjurkan untuk tidak menggaruk.
- Dorong pasien menerapkan prinsip-prinsip kebersihan diri.
- Kolaborasi pemberian antibiotik pada infeksi sekunder.
Dx. 4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang alergen-alergen .
Tujuan : Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan.
Tindakan :
-          Penkes yang meliputi pengetahuan pasien untuk mengenali agen penyebab, perjalanan penyakit , faktor yang memperberat dan cara perawatan.

Dx. 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu, bebas eksudat – purulen dan tidak demam.
Tindakan :
-          Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik.
-          Periksa area terkena.
-          Kaji adanya tanda-tanda infeksi.
-          Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antibiotik.

4.   IMPLEMENTASI
1) Nyeri ; gatal berhubungan dengan inflamasi pada kulit.
- Menghindarkan semua bahan yang menyebabkan.
- Menjelaskan pengertian untuk tidak digaruk.
- Melaksanakan advis dokter pemberian anti histamin.
2) Gangguan body image berhubungan dengan lesi pada kulit.
- Mengkaji makna kehilangan/perubahan pada pasien.
- Memberikan penguatan positid terhadap kemampuan dan mendorong usaha untuk mengikuti tujuan rehabilitasi.
- Memberikan kelompok pendukung untuk orang terdekat dan memberi informasi bagaimana mereka dapat membantu.
3) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan garukan.
- Mengkaji warna, ukuran, perhatikan jaringan nekrotik.
- Memberikan kompres dingin  / larutan PK untuk lesi eksudatif dan basah.
- Menganjurkan klien untuk jangan terlalu kuat mengusap-usap kulit dengan handuk.
- Menganjurkan klien untuk memakai stoking.
- Mengurangi kontak langsung pada area luka.
- Menganjurkan klien untuk tidak menggaruk.
- Mendorong klien untuk menerapkan prinsip-prinsip kebersihan diri dalam kehidupan sehari-hari.
- Memberikan obat antibiotik pada infeksi sekunder.
4) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
- Memberikan penkes kepada klien untuk mengenali agen penyebab, perjalanan penyakit, faktor yang memperberat dan cara perawatan.
5) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
- Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik.
- Memeriksa daerah yang terkena.
- Mengkaji tanda-tanda adanya infeksi.
- Memberikan obat antibiotik.

5.   EVALUASI
Dx.      1. Pasien bebas nyeri , gatal.
2. Individu menilai keadaan dirinya terhadap hal-hal yang realistis.
3. Jaringan berangsur pulih.
 Integritas kulit dapat dipertahankan.
4. Pasien dapat mengungkapkan pengertian mengenai proses penyakit, kemungkinnan komplikasi dan program rehabilitasi.
5. Tidak terjadi infeksi sekunder dan komplikasi.
    Tidak ada eksudat – purulen disekitar luka.