Monday, January 28, 2013

LP Fraktur



LANDASAN TEORI
A.      Konsep Dasar.
1.      Pengertian
a.       Fraktur adalah pemisahan / terputusnya / hilangnya kontiunitas dari pada struktur tulang.
b.      Fraktur Famur 1/3 distal adalah patah tulang paha sepertitiga bagian bawah.
c.       ORIF adalah Metode penata pelaksanaan patah tulang dengan cara pembedahan reduksi terbuka dan fiksasi internal dimana insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan ditemukan sepanjang bidang anatomik tempat yang mengalami fraktur, fraktur diperiksa dan diteliti, Hematoma fraktur dan fragmen – fragmen yang telah mati diiringi dari luka. Fraktur direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali, sesudah reduksi, fragmen – fragmen tulang dipertahankan dengan alat – alat urto pedih berupa Pin, Pelat, srew, paku.
2.      Anatomi fisiologis
Famur atau tulang paha adalah tulang terpanjang dari tubuh, tulang itu bersendi dengan acetabulum dalam formasi persendian panggul dan dari sendi menjulur media kelutut dan membuat sendi dengan tibia, femur memiliki dua ujung yaitu ujung atas terdapat kepala (caput) yang bualat dan cocok untuk masuk cekungan asetabulum yang membentuk sendi paha, bagian di bawah caput disebut leher (kolum) yang panjang dan gepeng, disamping kolum sebelah luar terdapat trakhanter mayor dan trakhanter minor ini dihubungkan oleh garis inter trokhanter di depan dan krista trakhanter di belakang.
Batang femor (Corpus Femoris) berbentuk silinder panjang dan agak melengkung ke depan berakhir pada dua kondilus yang bulat dan bersendi dengan tulang kering (tibia) untuk membentuk sendi lutut (artikalatio geno). Diujung bawah melebar dan memperlihatkan Ava kondilus yaitu internal dan medial sebuah permukaan poplitea (facialis poplitium), sebuah permukaan Patela (Facia patelaris) yang khas dan sebuah lekukan inter kondiler yang memisahkan kedua kondiler tersebut.
3.      Penyebab Patah Tulang
Penyebab patah tulang dibagi dalam tiga bagian, yaitu :
a.        Kekerasan Langsung.
Kekerasan secara langsung menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bamper moil, maka tulang akan patah tepat di tempat terjadi benturan tersebut.

b.      Kekerasan tidak langsung.

Kekerasan tidak langsung menyebabkan tulang patah di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kecelakaan atau kekerasan, dan biasanya yang patah adalah bagian yang lemah dalam jalur hantaman vektor kekerasan, contoh  apabila seseorang jatuh dari tempat ketinggian dengan posisi tumit kaki terlebih dahulu, maka yang patah selain tumit itu sendiri terjadi patah tulang tibia, fibula, femur dan kemungkinan juga patah tulang verfebra.

c.       Kekerasan Akibat Tarikan Otot

Patah tulang oleh karena tarikan otot jarang terjadi, contoh pada patah tulang ini adalah fraktur pahela dikarenakan otot lecep dan otot tricep berkontraksi secara mendadak.
4.      Sedangkan faktor yang mempegaruhi terjadinya patah tulang, yaitu :
a.        17 faktor ekstrinsik adalah gaya dari luar yang bereaksi pada tulang serta tergantung dari besarnya, waktu atau lamanya dan arah gaya tersebut  dapat menyebabkan patah tulang.
b.      Faktor instrensik adalah beberapa sifat penting dari tulang yang menentukan daya tahan timbulnya fraktur, yaitu kapasitas absorbsi dari sendi, daya elastisitas, daya terhadap kelelahan dan aktivitas atau kepadatan.
5.                  Patofisiologi
Adanya daya atau tekanan pada tulang menyebabkan terjadinya fraktur. Adanya fraktur dapat merusak jaringan lunak, pembuluh darah, serabut saraf dan sum-sum tulang, periotium dan kortek tulang. Pada kerusakkan jaringan lunakdapat terjadi luka, menyebabkan port de entry yang akan terjadi infeksi dan non infeksi, pada infeksi bias terjadi delayed union dan malunion, pada non infeksi terjadi union. Pada kerusakkan pembuluh darah dapat terjadi perdarahan dan akan mengakibatkan hematoma dan hipovolemik. Pada hematoma terjadi vasodilatasi eksudasi plasma migrasi leukosit yang akan menyebabkan inflamasi, bengkak, terjadi penekanan saraf dan timbul nyeri. Pada hipovolemik dapat terjadi hipotensi akan menyebabkan suplay darah ke otak menurun, kesadaran menurun dan dapat terjadi syok hipovolemik. Pada kerusakan serabut saraf dan sum-sum tulang
dapat menyebabkan hilangnya sensasi dan terjadi anesthesia, dapat juga merusak reseptor nyeri dan terjadi nyeri. Pada kerusakkan periostium dan kortek tulang dapat terjadi deformitas, krepitasi dan pemendekan extremitas.

6.      Klasifikasi Fraktur
-          Incomplet adalah fraktur hanya melibatkan bagian petunjuk menyilang tulang, salah satu sisi patah yang lain biasanya hanya bengkak (greenstick).
-          Complet adalah fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
-          Tertutup (simple) adalah fraktur titik meluas melewati kulit.

7.   Proses Penyembuhan Tulang

            Tahap-tahap Penyembuhan Tulang
1.      Tahap Pembentukan
Dalam 24 jam mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur, setelah 24 jam terbentuk karena suplai darah meningkat, berkembang menjadi Grawlasi
2.      Tahap Prolifelasi Seluler sampai hari XII
Pada area Fraktur, menyuplai sel yang sudah berubah menjadi Fibrin dan jaringan penunjang Fisura.
3.      Tahap pra kallus 6-10 hari setelah cedera granulasi berubah menjadi pra kallus, ukuran maksimal 14-21 hari.
4.      Tahap osifikasi kalkus sampai minggu ke XII
Membentuk Osifikasi kallus external minggu 3-10 kalus menyerupai tulang.
5.      Tahap Konsulidasi 6-8 bulan dan remodeling 6-12 bulan
Dengan aktifitas osteoblas dan osteoklas kallus mengalami pembentukan tulang sesuai dengan aslinya.
-   Terbuka (compaund) adalah fragmen tulang meluas melewati kulit  dan otot dimana potensial untuk terjadi infesi.
-          Patologis adalah fraktur terjadi pada penyakit tulang (seperti kanker, Osteoporosis) dengan tak ada trauma atau hanya minimal.
7.      Prinsip Penanganan Fraktur
Ada empat dasar yang harus di pertimbangkan pada waktu menangani fraktur :
Rekognisi menyangkut diagnosis fraktur pada tempat kejadian kecelakaan  dan kemudian di rumah sakit.
Reduksi adalah reposisi fragmen – fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya.
Retensi menyatukan metode – metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen – fragmen  tersebut selama penyembuhan. Rencana rehabilitasi harus segera di mulai dan dilaksanakan bersama dengan pengobatan fraktur.
8.      Dampak Masalah.
Bila salah satu anggota tubuh mengalami gangguan yang mengakibatkan cedera, maka tubuh akan memberikan reaksi baik fisik maupun psikologis sebagai mekanisme  pertahanan tubuh, disamping itu juga akan memberikan pengaruh atau dampak terhadap kebutuhan penderita sebagai makluk hidup yang holistik dan juga akan berpegaruh terhadap keluarga klien.
a.       Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan
Bahwa biasanya klien fraktur femur mempunyai harapan dan alasan masuk Rumah Sakit, Adapun alasannya ingin segera sembuh dari penyakitnya dan harapan tersebut adalah tidak ingin terjadi kecacatan pada dirinya kelak di kemudian hari.
b.      Pola Nutrisi dan Metabolis
Pola nutrisi dan metabolik pada klain fraktur femur jarang mengalami gangguan kecuali apabila terdapat trauma pada abdomen atau komplikasi lain yang dapat menyebabkan klien antreksia.
c.       Pola aktifitas dan Latihan
Pada klien fraktur femur setelah dilakukan orif akan mempengaruhi gerak dan pola. Aktivitasnya, oleh itu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari, klien akan di bantu oleh perawat atau keluarganya dan suami mungkin untuk dilakukan latihan rontag gerak baik positif / aktif.
d.      Pola Tidur dan istirahat
Terganggunya pola tidur dan kebutuhan istirahat pada klien post orif dengan fraktur femur biasanya di sebabkan olah raga nyeri dan daerah operasi juga di sebabkan adanya plat dan screw.
e.       Pola Perceptual dan Kognitif
Klien biasanya kurang memahami tentang proses penyembuhan luka dan pembentukan kalis pc atau penyambunga tulang kembali yang memerlukan proses dan waktu sehingga dalam tahap – tahap perawatan perlu kata penata laksanaan yang kompraktif.
f.       Pola Elimasi Defekasi dan Iniksi
Klian kadang – kadang masih dalam perawatan dirumah sakit membatasi makan dan minum, hal ini dikarenakan adanya immabilisasi pasca operasi orif yang mengharuskan pasien tidak mempergunakan kakinya yang cedera untuk aktifitas sehingga klain kurang beraktifitas dan dapat mengakibatkan konstipasi (sembelit).
g.      Pola Seksual dan Repraduksi
Klein post operasi orif dengan fraktur femur jelas akan mempengaruhi pola kebutuhan seksualitas, disamping klien harus menjaga agar daerah operasinya seminimal mungkin mendapat beban dan rasa nyeri yang tidak memungkinkan klien untuk melalukan aktifitas seksualnya.
h.      Pola Hubungan Peran
Pola hubungan pran berpengaruh sekali terutama sekali apabila klien seorang kepala rumah tangga yang merupakan satu – satunya orang yang mencari nafkah bagi keluarganya.
i.        Dampak Psikologis
Dampak psikologis yang di timbulkan adalah rasa kuatir terhadap kecacatan yang mungkin terjadi kelak dikemudian hari sehingga memungkinkan tidak mampu beraktifitas seperti biasa.
·         Imobilisasi
Untuk memungkinkan kesemubuhan fregmen yang dipersatukan.
9.      Fiksisasi Eksterns, tindakan ini merupakan pilihan bagi sebagian besar fraktur femur di imabilisasi dengan menggunakan bidai atau gif.
10.  Fiksasi intern, cara ini digunakan untuk kasus tertentu, ujung patahan tulang  disatukan dan di fiksasi pada operasi, misalnya dengan pen, plat dan screw, wire.
·         Fisiotrapi dan Mobilisasi.
Sejak awal harus dilakukan latihan tentang gerak untuk mempraktekkan otot yang dapat mengecil secara cepat jika tidak dipergunakan, estitasi fraktur cukup sembuh, mobilisasi sendi dapat dimulai sampai Entruntas gatal – gatal telah kembali normal.
9.                  Komplikasi Fraktur
Shok, infeksi, nekrosis vaskuler, cedera vaskuler dan saraf, malunion, nonunion, delayed union,iskemik

B.      Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian
a.       Pengumpulan data
1)      Anamnese
                                                a)      Indentitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan.
                                                b)      Keluhan Utama Klien.
Pada Anamnese ini yang perlu dikaji adalah apa yang diperlukan pada saat itu seperti nyeri, bengkak, kelainan bentuk, hilangnya fungsi dan krepitasi serta paa daerah mana fraktur terjadi.
                                                c)      Riwayat Penyakit Sekarang.
Dalam pengkajian ini meliputi riwayat terjadinya terutama apakah dikarenakan kecelakaan, terjatuh atau terjadi benturan langsung dengan vektor kekerasan dan sifat pertolongan yang pernah diberikan.
                                               d)      Riwayat Penyakit Dahulu
Dalam pengkajian ini perlu ditanyakan meliputi riwayat yang berhubungan dengan trauma pada tulang, apakah klain mempunyai penyakit tulang seperti osteomylitis, ostroporasis dan apakah klien pernah mengalami riwayat trauma sebelumnya.
2)      Pemeriksaan Fisik
                                                a)      Keadaan Umum Klien
Klien fraktur femur dengan post orif biasanya terbaring total dengan seminimal mungkin melaksanakan aktifitas gerak ini disebabkan karena adanya imabilisasi dan rasa nyeri akibat tindakan perbedaan, sehingga klien takut untuk bergerak, keadaan umum klien biasanya baik tetapi dapat menimbulkan dampak seperti gangguan eliminasi inikasi dan defikasi, integritas kulit dan gangguan aktifitas lain yang menunjang kehidupan sehari – hari.
                                                b)       Gejala klinis Patah Tulang
Gejala klinis dari Patah Tulang femur dapat di bagi menjadi dua, yaitu :
(1)  Tanda – tanda pasti
-          Gerakan abnormal pada tempat terjadinya patah tulang menjadi sendi palsu sehingga terjadi gerakan yang abnormal.
-          Krepitasi, yaitu di karenakan gesekan kedua ujung fragmen tulang yag patah sehingga terasa bunyi gemeretak ketika ujung tulang yang patah bergesekan.
-          Kalainan bentuk (deformitas), dikarenakan adanya kerusakan pada jaringan disekitar fraktur mengakibatkan pendarahan dan pembengkakan.
(2)  Tanda – tanda tidak pasti
-          Rasa nyeri, bengkak dan berubah warna (membiru) dikarenakan terjadi pendarahan di sekitar bagian fraktur, rasa nyeri hebat terutama apabila dilakukan pergerakan atau aktifitas.
-          Kelainan bentuk (deformitas), hal ini disebabkan oleh karena adanya perdarahan dan pembengkakan.
-          Hilangnya fungsi (fungtiolaesa), disebabkan oleh rasa nyeri serta terpotongnya kontinuitas jaringan tulang sehingga tidak mampu melakukan pergerakan.
b.      Pengamatan terhadap kemungkinan terjadinya infeksi akibat operasi Orif
(1)    Kulit, dikarenakan adanya luka operasi, tindakan pembedahan dalam rangka pemasangan plat dan screw.
(2)    Vaskuler, pembengkakkan karena pendarahan
(3)    Tulang, dikarenakan tindakan internal fixatian (pemasangan plat dan screw).
c.       Pemeriksaan penunjang atau tambahan.
-          Pemeriksaan Laboratorium
-              Pemeriksaan labortorium darah lengkap seperti hemoglobin, trombosit, leukosit, glukosa sewaktu.
-              Pemeriksaan faal hemostasis meliputi waktu pendarahan, waktu pembekuan.
-              Pemeriksaan kimia klinik rutin yaitu, sikap darah puasa, sgot, sgpt.
-          Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Radiologi di gunakan untuk menguatkan diagnosa patah tulang yang dapat mengambarkan kerusakan tulang, ketidak lurusan tulang dan kesalahan bentuk dari tulang itu sendiri, sedangkan posisi foto tulang di lakukan secara :
-              Dua arah (anterior dan lateral)
-              Dua sendi (proksimal dan distal)
-              Dua waktu yang berbeda yaitu setelah terjadi trauma dan sehari setelah dilakukan tindakan operasi orif.
-              Dua extremitas sebagai pembanding apabila garis patah tulang meragukan.
d.      Analisa Data
Setelah data dikumpulkan dan di kelompokkan kemudian dianalisis sebagai berikut, untuk pengelompokkan data dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu data subyektif dan data obyektif.
Data subyektif yaitu data yang didapat dari ungkapan atau keluhan, klien sendiri atau keluarga dan data obyekti yaitu data yang didapat dari suatu pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan.
Data tersebut dikumpulkan berdasarkan perannya untuk menunjang suatu masalah, dimana masalah berfokus pada klien dan respon klien.
e.       Diagnosa Keperawatan
Dari analisa data kemudian dirumuskan suatu diagnosa keperawatan berikut ini adalah beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien post operasi orif dengan fraktur femur antara lain:
1.      Nyeri berhubungan dengan cedera pada jaringan lunak
2.      Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan immobilisasi.
3.      Kerusakan integritas  kulit / jaringan berhubungan dengan orif pemasangan plat  dan srew.
4.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
5.      Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan / krisis.
6.      Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang penatalaksanaan perencanaan di rumah.
2.      Perencanaan
Pada prinsipnya dalam penanganan atau pengobatan pada klien fraktur femur ada empat tahap, adapun tujuan pemasangan plat dan screw yaitu mempertahankan reduksi extremitas yang mengalami fraktur tulang yang patah (immobilisasi), memudahkan perawatan (rehabilitasi) dalam masa perawatan (rehabilitasi) terjadi proses penyambungan tulang yang terdiri dari beberapa proses yaitu granulasi pembentukan kalus dan remodeling sehingga terbentuklah tulang seperti semula, adapun tahap perencanaan meliputi penentuan tujuan dan kreteria hasil, merumuskan rencana tindakan.
a.       Diagnosa Keperawatan nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak (interpretasi operasi).
Tujuan : Mengatakan nyeri hilang
Kriteria hasil : klien menyatakan nyeri berkurang atau hilang, klien tidak gelisah, klien menunjukan tindakan santai, mampu beradaptasi dengan aktifitas / tidak / istirahat.
Rencana tindakan :
1.   Kaji  lokasi,  tipe  dan  intensitas nyeri  dengan   menggunakan  skala (1 – 10).
2.   Ukur Tanda  - tanda vital
3.   Jelaskan penyebab nyeri
4.  Anjurkan mempergunakan teknik alternatif penghilang nyeri dengan napas dalam.
5.   Kolaborasi dalam kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan immobilisasi.
      Tujuan : Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi yang mungkin.
      Krateria Hasil : mempertahankan posisi fungsional, meningkatkan kekuatan / fungsi  yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukan teknik yang merupakan melakukan aktivitas.
      Rencana aktivitas :
1)      Kaji derajat immobilitas yang dihasilkan oleh pengobatan dan perkalian persepsi pasien terhadap immobilisasi.
2)      Instruksikan pasien untuk melakukan latihan rom pasif dan aktif pada extremitas yang sakit dan tidak sakit sesuai toleransi.
3)      Bantu klien dalam perawatan diri kebersihan.
4)      Ubah posisi periodik dan dorong untuk latihan napas dalam
5)      Auskultasi bising usus, awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan defekasi rutin.
6)      Kolaborasi dengan rehabilitsi dalam terapi fisik / okupasi.
b.      Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan bedah perbaikan (orif) pemasangan plat dan screw.
Tujuan : menyatakan ketidak nyamanan hilang
Kreteria hasil : menunjukan prilaku /  unig untuk mencegah kerusakan kulit / memudahkan menyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji keadaan kulit, kemerahan, pendarahan, perubahan warna dan rasa nyeri.
2)      Ubah posisi sesering mungkin
3)      Rawat luka operasi secara aseptik
4)      Observasi untuk potensial ares yang tertahan, khususnya pad akhir dan bawah babatan.
c.       Resiko Tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur insentif
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kreteria hasil : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan udema.
Rencana Tindakan :
1)      Inspeksi kulit adanya tanda – tanda infeksi
2)      Ukur tanda – tanda vital
3)      Rawat luka secara aseptik
4)      Kolaborasi dalam pemeriksaan Lab. Dan memberikan ani biotik
d.      Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan / kritas situasi.
Tujuan : Ansietas berkurang atau hilang
Kriteria hasil : mengungkapkan perasaan lebih santai, memperagakan teknik reaksasi dengan tepat.
Rencana Tindakan :
1)      Pantau tingkat ansietas klien
2)      Berikan penekanan penjelasan dokter mengenai pengobatan dan tujuan, klarifikasi kesalahan konsep.
3)      Berikan dan luangkan waktu untuk mengungkapkan perasaan.
4)      Ajarkan dan bantu dalam teknik pelaksanaan stress.
5)      Berikan dorongan untuk berinteraksi dengan orang terdekat dengan teman serta saudara.
e.       Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.
Tujuan : Kurang pengetahuan dapat teratasi
Krateria hasil : Mengungkapkan pengertian tentang prognosis, pengobatan dan program rehabilitasi, mengeksperikan tentang gejala, potensial komplikasi.
Rencana tindakan :
·         Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya.
·         Tekankan pentingnya rencana rehabilitasi aktifitas, istirahat dan latihan.
·         Diskusikan tanda dan gejala untuk dilaporkan pada dokter : nyeri hebat, perubahan suhu tubuh.
·         Jelskan tentang plat dan screw sesuai indikasi.
                        Berikan dorongan untuk melalukan kunjungan tidak lanjut pada dokter

Monday, January 21, 2013

Laporan Pendahuluan Pasien Jiwa dengan Waham


ASUHAN  KEPERAWATAN PADA PASIEN DEWASA DENGAN WAHAM

Berbagai macam masalah kehilangan dapat terjadi pada paska bencana, baik itu kehilangan harta benda, keluarga maupun orang yang bermakna. Kehilangan ini merupakan stresor yag menyebabkan stres pada mereka yang mengalaminya. Bila stress ini berkepanjangan dapat memicu masalah gangguan jiwa dan pasien dapat mengalami waham.


A.    TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari modul ini saudara diharapkan mampu :

1.     Mengkaji  data yang terkait masalah waham

2.     Menetapkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan waham

3.     Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien dengan waham

4.     Melakukan tindakan keperawatan kepada keluarga pasien dengan waham

5.     Mengevaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam menangani masalah waham

6.     Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pasien dengan waham

 

B.  PENGKAJIAN

1.   Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan.

2.  Tanda dan Gejala waham adalah :
Untuk mendapatkan data waham saudara harus melakukan observasi terhadap perilaku berikut ini:
a.  Waham kebesaran
      Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan  
      berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
      Contoh: “Saya ini pejabat di departemen kesehatan lho..” atau “Saya
                     punya tambang emas”
b.   Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha    merugikan/mecederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
      Contoh: “Saya tahu..seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup
                    saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya”
c.       Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan
Contoh: “Kalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan pakaian 
                putih setiap hari”
d.      Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang penyakit, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya sakit kanker”, setelah pemeriksaan laboratorium tidak
               ditemukan tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan
               bahwa ia terserang kanker.
e.       Waham nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal,diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Ini khan alam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh”

Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang dapat saudara gunakan sebagai panduan untuk mengkaji pasien dengan waham :

Selama pengkajian saudara harus mendengarkan dan memperhatikan semua informasi yang diberikan oleh pasien tentang wahamnya.

Untuk mempertahankan hubungan saling percaya yang telah terbina jangan menyangkal, menolak, atau menerima keyakinan pasien.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data yang diperoleh ditetapkan diagnosa keperawatan:
                                                                      
GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM
                        
                         
D.  TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Tindakan keperawatan untuk pasien
  a.      Tujuan
1)            Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
2)            Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
3)            Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
4)            Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
b.Tindakan
1)            Bina hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien dengan waham, saudara harus membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a). Mengucapkan salam terapeutik
b). Berjabat tangan
c). Menjelaskan tujuan interaksi
d). Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien.
2)            Bantu orientasi realita
a)      Tidak mendukung atau membantah waham pasien
b)      Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman
c)      Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
d)     Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti membicarakannya
e)      Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realitas.
3)      Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
4)       Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan        emosional pasien
5)      Berdikusi tentang kemampuan positif yang dimiliki
6)      Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki
7)      Berdiskusi tentang obat yang diminum
8)      Melatih minum obat yang benar

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan; mempraktekkan  pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

ORIENTASI:
“Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas pagi ini di ruang melati. Saya dinas dari pk 07-14.00 nanti,  saya yang akan merawat abang hari ini. Nama abang siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang bang B rasakan sekarang?”
Berapa lama bang B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang, bang?”

KERJA:
Saya mengerti bang B merasa bahwa bang B adalah seorang nabi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayainya karena setahu saya semua nabi sudah tidak adalagi, bisa kita lanjutkan pembicaraan yang tadi terputus bang?”
“Tampaknya bang B gelisah sekali, bisa abang ceritakan apa yang
bang B rasakan?”
“O... jadi bang B merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk mengatur diri abang sendiri?”
“Siapa menurut bang B yang sering mengatur-atur diri abang?”
“Jadi ibu yang terlalu mengatur-ngatur ya bang, juga kakak dan adik abang yang lain?”
 “Kalau abang sendiri inginnya seperti apa?”
 “O... bagus abang sudah punya rencana dan jadual untuk diri sendiri”
“Coba kita tuliskan rencana dan jadual tersebut bang”
“Wah..bagus sekali, jadi setiap harinya abang ingin ada kegiatan diluar rumah karena bosan kalau di rumah terus ya”

TERMINASI

Bagaimana perasaan B setelah berbincang-bincang dengan saya?”
”Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus”
“Bagaimana kalau jadual ini abang coba lakukan, setuju bang?”
“Bagaimana kalau saya datang kembali dua jam  lagi?”
”Kita bercakap-cakap tentang kemampuan yang pernah Abang miliki? Mau di mana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini lagi?”



SP 2 Pasien: Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu mempraktekkannya

Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

ORIENTASI

“Assalamualaikum bang B, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus!”
“Apakah bang B sudah mengingat-ingat apa saja hobi atau kegemaran abang?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi bang B tersebut?”
“Berapa lama bang B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit tentang hal tersebut?”

KERJA

“Apa saja hobby abang? Saya catat ya Bang, terus apa lagi?”
“Wah.., rupanya bang B pandai main volley ya, tidak semua orang bisa bermain volley seperti itu  lho B”(atau yang lain sesuai yang diucapkan pasien).
“Bisa bang B ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main volley, siapa yang dulu mengajarkannya kepada bang B, dimana?”
“Bisa bang B peragakan kepada saya bagaimana bermain volley yang baik  itu?”
“Wah..baik sekali permainannya”
“Coba kita buat jadual untuk kemampuan bang B ini ya, berapa kali sehari/seminggu bang B mau bermain volley?”
“Apa yang bang B harapkan dari kemampuan bermain volley ini?”
“Ada tidak hobi atau kemampuan bang B yang lain selain bermain volley?”

TERMINASI

“Bagaimana perasaan bang B setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan kemampuan abang?”
“Setelah ini coba bang B lakukan latihan volley sesuai dengan jadual yang telah kita buat ya?”
 “Besok kita ketemu lagi ya bang?”
“Bagaimana kalau nanti sebelum makan siang? Di kamar makan saja, ya setuju?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus bang B minum, setuju?”
“Bagaimana kalau sekarang bang B teruskan kemampuan bermain volley tersebut…….”


 
 




SP 3 Pasien :Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar


Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

ORIENTASI

“Assalamualaikum bang B.”
“Bagaimana bang sudah dicoba latihan volleynya? Bagus sekali” 
“Sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang obat yang bang B minum?”
“Dimana kita mau berbicara? Di kamar makan?”
“Berapa lama bang B mau kita berbicara? 20 atau 30 menit?

KERJA

 “Bang B berapa macam obat yang diminum/ Jam berapa saja obat diminum?”
“ Bang B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang,   tidurnya juga tenang”
“Obatnya ada tiga macam bang, yang warnanya oranye  namanya CPZ gunanya agar tenang,  yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang  merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7  malam”.
 “Bila nanti setelah minum obat mulut bang B terasa kering,  untuk membantu mengatasinya abang bisa banyak minum  dan mengisap-isap  es batu”.
 “Sebelum minum obat ini bang B dan ibu mengecek dulu label di kotak obat apakah benar nama B tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar”
“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya bang B tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter”.

TERMINASI

“Bagaimana perasaan bang B setelah kita bercakap-cakap
  tentang obat yang bang B minum?. Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
“Mari kita masukkan pada jadual kegiatan abang. Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat makan minta sendiri obatnya pada suster”
“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya Bang!”
“bang, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan. Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 dan di tempat sama?”
“Sampai besok.”
 
 






 2. Tindakan keperawatan untuk keluarga
      a. Tujuan :
          1) Keluarga mampu mengidentifikasi waham pasien
          2) Keluarga mampu memfasilitasi pasien untuk memenuhi  kebutuhan yang
   dipenuhi oleh wahamnya.
          3) Keluarga mampu mempertahankan program pengobatan pasien secara  
              optimal
           b.Tindakan :
1)      Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga saat merawat pasien di rumah.
2)      Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami pasien
3)      Diskusikan dengan keluarga tentang:
a) Cara merawat pasien waham dirumah
b) Follow up dan keteraturan pengobatan
c) Lingkungan yang tepat untuk pasien.
4) Diskusikan dengan keluarga tentang obat pasien (nama obat, dosis, frekuensi, efek samping, akibat penghentian obat)
5) Diskusikan dengan keluarga kondisi pasien yang memerlukan konsultasi segera
6) Latih cara merawat
7) Menyusun rencana pulang pasien bersama keluarga

SP 1 Keluarga : Membina hubungan saling percaya dengan keluarga; mengidentifikasi masalah menjelaskan proses terjadinya masalah; dan obat pasien.

Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

ORIENTASI

“Assalamualaikum pak, bu, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas di ruang melati ini. Saya yang merawat bang B selama ini. Nama bapak dan ibu siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah bang B dan cara merawat B di rumah?”
“Dimana kita mau berbicara? Bagaimana kalau di ruang wawancara?”
“Berapa lama waktu bapak dan ibu? Bagaimana kalau 30 menit”

KERJA

“Pak, bu, apa masalah yang Bpk/Ibu rasakan dalam merawat bang B? Apa yang sudah dilakukan di rumah?Dalam menghadapi sikap anak ibu dan bapak  yang selalu mengaku-ngaku sebagai seorang nabi tetapi nyatanya bukan nabi merupakan salah satu gangguan proses berpikir. Untuk itu akan saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya. Setiap kali anak bapak dan ibu berkata bahwa ia seorang nabi bapak/ ibu dengan mengatakan pertama:
‘Bapak/Ibu mengerti B merasa seorang nabi, tapi sulit bagi bapak/ibu untuk mempercayainya karena setahu kami semua nabi sudah meninggal.”
“Kedua: bapak dan ibu harus lebih sering memuji B jika ia melakukan hal-hal yang baik.”
“Ketiga: hal-hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang  berinteraksi dengan B”
 “Bapak/Ibu dapat bercakap-cakap dengan B tentang kebutuhan yang diinginkan B, misalnya: “Bapak/Ibu percaya B punya kemampuan dan keinginan. Coba ceritakan kepada bapak/ibu. B khan punya kemampuan ............ “ (kemampuan yang pernahdimiliki oleh anak)
“Keempat: Bagaimana kalau dicoba lagi sekarang?”(Jika anak mau mencoba berikan pujian) “Pak, bu, B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang,  tidurnya juga tenang”
“Obatnya ada tiga macam, yang warnanya oranye  namanya CPZ gunanya agar tenang,  yang putih ini namanya THP guanya supaya rileks, dan yang  merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran tenang semuanya ini harus diminum secara teratur 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam, jangan dihentikan sebelum berkonsultasi dengan dokter karena dapat menyebabkan B kambuh kembali” (Libatkan keluarga saat memberikan penjelasan tentang obat kepada klien). Bang B sudah mempunyai jadwal minum obat. Jika dia minta obat sesuai jamnya, segera beri pujian.

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat B di rumah?”
“Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi setiap kali berkunjung ke rumah sakit.”
 “Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu datang kembali kesini dan kita akan mencoba melakukan langsung cara merawat B sesuai dengan pembicaraan kita tadi”
“Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?”
“Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu”

 

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga cara merawat pasien
  
Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini



ORIENTASI

“Assalamualaikum pak, bu, sesuai janji kita dua hari yang lalu kita sekarang ketemu lagi”
“Bagaimana pak, bu, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan dua hari yang lalu?”
“Sekarang kita akan latihan cara-cara merawat tersebut ya pak, bu?”
“Kita akan coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung ke B ya?”
“Berapa lama bapak dan ibu punya waktu?”

KERJA
“Sekarang anggap saya B yang sedang mengaku-aku sebagai nabi, coba bapak dan ibu praktekkan cara bicara yang benar bila B sedang dalam keadaan yang seperti ini”
“Bagus, betul begitu caranya”
 “Sekarang coba praktekkan cara memberikan pujian kepada kemampuan yang dimiliki B. Bagus.”
“Sekarang coba cara memotivasi B minum obat dan melakukan kegiatan positifnya sesuai jadual?”
“Bagus sekali, ternyata bapak dan ibu sudah mengerti cara merawat B”
“Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada B?”
(Ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien)

 


TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita berlatih cara merawat B?”
“Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali bapak dan ibu membesuk B”
 “Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu datang kembali kesini dan kita akan mencoba lagi cara merawat B sampai bapak dan ibu lancar melakukannya”
“Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?”
“Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu”

 
 




































           
  SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
    

ORIENTASI

“Assalamualaikum pak, bu, karena  B sudah boleh pulang, maka  kita bicarakan jadual B selama dirumah”
“Bagaimana pak, bu, selama bapak dan ibu besuk apakah sudah terus dilatih cara merawat B?”
“Nah sekarang bagaimana kalau bicarakan jadual di rumah? Mari Bpk/Ibu duduk di sini”
“Berapa lama bapak dan ibu punya waktu? Baik 30 menit saja, sebelum Bpk/Ibu menyelesaikan administrasi di depan.”

KERJA
“Pak/Bu, ini jadwal B selama di rumah sakit. Coba diperhatikan. Apakah kira-kira dapat dilaksanakan semua di rumah? Jangan lupa memperhatikan B, agar ia tetap menjalankan di rumah, dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri), B (bantuan), atau T (tidak mau melaksanakan).”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di rumah. Kalau misalnya B mengaku sebagai seorang nabi terus menerus dan tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika  hal ini terjadi segera hubungi Suster E di Puskesmas Indra Puri, puskesmas terdekat dari rumah ibu dan bapak, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 321xxx.
Selanjutnya suster E yang akan membantu memantau perkembangan B selama di rumah”

TERMINASI

“Apa yang ingin Bapak/Ibu tanyakan?Bagaimana perasaan Bpk/Ibu? Sudah siap melanjutkan di rumah?”
 “Ini jadwal kegiatan hariannya. Ini rujukan untuk Sr E di PKM Inderapuri. Kalau ada apa-apaBpk/Ibu boleh juga menghubungi kami. Silakan menyelesaikan administrasi ke kantor depan.”
 
   Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

E. EVALUASI

  1. Kemampuan pasien dan keluarga

PENILAIAN KEMAMPUAN PASIEN DAN KELUARGA
DENGAN MASALAH WAHAM

Nama pasien    : .................
Nama ruangan : ...................
Nama perawat : ...................

Petunjuk pengisian:
1.      Berilah tanda (V) jika pasien dan keluarga mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
2.      Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian


No

Kemampuan
Tgl
Tgl
Tgl
Tgl




A
Pasien
1
Berkomunikasi sesuai dengan kenyataan




2
Menyebutkan cara memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi




3
Mempraktekkan cara memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi




4
Menyebutkan kemampuan positif yang dimiliki




5
Mempraktekkan kemampuan positif yang dimiliki




6
Menyebutkan jenis, jadual, dan waktu minum obat




7
Melakukan jadwal aktivitas dan minum  obat sehari-hari




B
Keluarga
1
Menyebutkan pengertian waham dan proses terjadinya waham




2
Menyebutkan cara merawat pasien dengan waham




3
Mempraktekkan cara merawat pasien dengan waham




4
Membuat jadual aktivitas dan minum obat klien di rumah (discharge planning)




     

2.Kemampuan perawat

PENILAIAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN  WAHAM

Petunjuk pengisian:
Penilaian tindakan keperawatan untuk setiap SP dengan menggunakan instrumen penilaian kinerja (No 04.01.01).
Nilai tiap penilaian kinerja masukkan ke tabel pada baris nilai SP.


No

Kemampuan
Tgl
Tgl
Tgl
Tgl
Tgl
Tgl
Tgl







A
Pasien

SP I p







1
Membantu orientasi realita







2
Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi







3
Membantu pasien memenuhi kebutuhannya







4
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian








Nilai SP I p








SP II p







1
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien







2
Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki







3
Melatih kemampuan yang dimiliki








Nilai SP II p








SP III p







1
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien







2
Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur







3
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian








Nilai  SP III p







B
Keluarga

SP I k







1
Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien







2
Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan jenis waham yang dialami pasien beserta proses terjadinya







3
Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham








Nilai SP I k








SP II k







1
Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan waham







2
Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien waham








Nilai SP II k








SP III k







1
Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat  (discharge planning)







2
Menjelaskan  follow up pasien setelah pulang








Nilai SP III k








Total nilai: SP p + SP k


Rata-rata


Nama pasien    : .................
Nama ruangan : ...................
Nama perawat : ...................

 

F. MENDOKUMENTASIKAN ASUHAN KEPERAWATAN


1. Berikut adalah pedoman pengkajian dari diagnosa keperawatan waham. Format   
    pengkajian lengkap dapat dilihat di modul 7

Latihan
Dokumentasikan pengkajian dan diagnosa keperawatan pasien waham menggunakan format yang tersedia

Proses pikir
[   ]  Sirkumstansial                 [   ]  Tangensial
[   ]  Flight of ideas                 [   ]  Blocking
[   ]  Kehilangan assosiasi        [   ]  Pengulangan bicara
Isi pikir
[   ]  Obsesi                              [   ]  Fobia
[   ]  Depersonalisasi                [   ]  Ide terkait
[   ]  Hipokondria                    [   ]  Pikiran magis

Waham
[   ]  Agama                [   ] Somatic      [   ] Kebesaran       [   ] Curiga

[   ] Nihilistik               [   ] Sisip pikir    [   ] Siar pikir         [   ] Kontrol pikir

 
 





















G.  Terapi Aktivitas Kelompok

Terapi aktivitas kelompok yang dapat dilakukan untuk pasien dengan waham adalah:
1.  TAK orientasi realitas
TAK orientasi realitas terdiri dari tiga sesi yaitu:
a. Sesi 1: Pengenalan orang
b. Sesi 2: Pengenalan tempat
c. Sesi 3: Pengenalan waktu



2.  TAK sosialisasi
 TAK sosialisasi terdiri dari tujuh sesi yaitu:
a. Sesi 1: Kemampuan memperkenalkan diri
b. Sesi 2: Kemampuan berkenalan
c. Sesi 3: Kemampuan bercakap-cakap
d. Sesi 4: Kemampuan bercakap-cakap topik tertentu
e. Sesi 5: Kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
f.  Sesi 6: Kemampuan bekerjasama
g. Sesi 7: Evaluasi kemampuan sosialisasi

Panduan secara lengkap untuk melaksanakan TAK tersebut diatas dan format evaluasinya dapat dilihat pada Buku Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok

H. Pertemuan Kelompok Keluarga

Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar. Lebih rinci panduan pertemuan keluarga ini dapat dilihat di modul lain. Demikian juga dengan format evaluasi untuk pasien dan perawat akan ditampilkan di modul khusus yang membahas pertemuan keluarga.