Rabu, 06 Juni 2012

Askep Malaria


MALARIA


A.  KONSEP DASAR
  1. PENGERTIAN
 Malaria adalah penyakit infeksi yang dapat bersifat acut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium ditandai dengan demam, anemia, dan splenomegali.
  1. ETIOLOGI
Protozoa genus Plasmodium merupakan penyebab dari malaria, yang terdiri dari empat spesies yaitu :
a.       Plasmodium Falciparum penyebab malaria tropika.
b.       Plamodium Ovale penyebab malaria ovale.
c.       Plamodium Vivax peyebab malaria tertiana.
d.      Plasmodium malariae penyebab malaria quartana.
Malaria juga melibatkan hospes perantara, yaitu mmmanusia maupun vertebra lainnya, dan hospes definitif yaitu nyamuk anopheles.
  1. PATHOGENESIS
Daur hidup spesies malaria  terdiri dari fase seksual eksogen (Sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebra termasuk manusia.
a.      Fase Aseksual dalam tubuh manusia
 Terbagi atas Fase Jaringan dan Fase Eritrosit. Pada Fase jaringan, sporozoit masuuk dalam aliran darah ke sel hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Preoses ini disebut Skizigoni  Praeritrosit. Selanjutnya Skizon pecah dan merozoit keluar masuk dalm aliran darah , disebut Sporulasi. Pada P. Ovale dan P. Vivax, sebagian sporozoit membentuk Hipnozoit dalam hati sehingga dapat mengakibatkan relaps jangka panjang dan rekurens.
Fase eritrosit dimulai dari merozoit dalam darah menyerang eritrosit membentuk tropozoit . dalam eritrosit proses berlanjut menjadi tropozoit – skizon pecah – merozoit masuk dalam eritrosit baru. Setelah dua sampai tiga generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual (makro gamet dan mikrogamet).

b.      Fase Seksual dalam Tubuh Nyamuk
   Parasit aseksual masuk dalam lambung nyamuk, mikro dam makrogametosit mengalami pematangan dan terjadilah pembuahan dan pembentukan Zigot. Zigot menembus dinding nyamuk – membentuk ookista – ookista pecah – maka ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar liur nyamuk. Cara infeksi dapat melalui gigitan nyamuk dan induksi bila stadium aseksual dalam eritrosit masuk dalam tubuh manusia melalui tranfusi, suntikan atau pada janin melalui plasenta ibu (kongenital).
  1. TANDA DAN GEJALA
Pada anamnesa adanya riwayat bepergian ke daerah yang endemis malaria. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan adalah :
a.      Demam
Demam yang terjadi berbeda pada tiap jenis malaria, hal ini berkaitan dengan pecahnya skizon matang (sporulasi). Pada  malaria tropika   (P. palsifarum) pematangan skizon tiap 24 jam, maka prioditas demamnya setiap hari kedua, malaria tertiana (P. vivak & P. ovale) pematangan skizon tiap 48 jam maka demam terjadi tiap hari ketiga, sedangkan pada malaria kuartana (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam sehingga demam terjadi tiap hari keempat.
Demam terdiri atas tiga stadium :
1). Stadium Frigeris / Menggigil, (15 menit – 1 jam) dengan tanda dan gejala :
a). Klien merasa dingin
b). Nadi Lemah
c). Bibir dan jari – jari sianosis
d). Kulit kering dan pucat
e). Muntah
f). Pada anak – anak sering terjadi kejang
2). Stadium Acme / Puncak Demam (2 – 6 jam) :
a). Klien merasa kepanasan
b). Muka merah
c). Kulit kering dan terasa panas seperti terbakar
d). Mual muntah disertai anoreksia
e). Nadi menjadi kuat
f). Penderita merasa haus, suhu tubuh meningkat dapat mencapai  410C.
3). Stadium Sudoris berkeringat (2 – 4 jam) :
a). Klien berkeringat banyak
b). Suhu tubuh menurun dengan cepat, kadang dibawah normal.    
b.      splenomegali
merupakan gejala khas malaria kronis. Limfa mengalami kongesti, menghitam, dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah.
c.       anemia
Dapat terjadi karena :
1)      Penghancuran eritrosit yang berlebihan.
2)      Eritrosit normal tidak dapat hidup lama ( Reduced Survival Time ).
3)      Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis.
d.      Ikterus
Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar
e.   gejala  klinis  tidak   khas berupa ; nyeri  kepala,  nyeri otot, mual, muntah nafsu makan menurun dan cepat lelah.
   Pada klien yang menderita malaria dapat terjadi relaps yang merupakan timbulnya gejala infeksi etelah serangan  pertama. Relaps dapat bersifat :
a.       Relaps dapat jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul  delapan minggu setelah serangan pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak.
b.       Relaps dapat jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebi setelah serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan berkembang biak.
  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah tepi, pembuatan preparat darah tebal dan tipis dilakukan untuk melihat keberadaan parasit dan jenisnya dalam darah tepi. Pengambilan darah sebaiknya dilakukan pada saat demem terjadi.
  1. PENATALAKSANAAN
Obat antimalaria terdiri dari lima jenis :
a.       Skizontisid jaringan primer (: Proguamil, Pirimetamin) berfungssi membasmi parasit praeritrosit.
b.      Skizontisid jaringan sekunder (Primaquin) membasmi parasit eksoeritrosit.
c.       Skizontisid darah  (: Kina, Kloroquin dan Amodiaquin) membasmi parasit fase eritrosit.
d.      Gametosid yang menghancurkan bentuk seksual (: Primaquin, Kina, Kloroquin dan Amodiakuin).
e.       Sporontosid ( : Primaquin dan Proguanil ) mencegah gametosit dalam darah untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk Anopheles.
f.       Sering terjadi resisten pada P. Falciparum terhadap kloroquin maka dapat diberikan obat antimalaria lain, yaitu :
1)      Kombinasi sulfadoksin dan pirimetamin dalam dosis tunggal sebanyak 2 – 3 tablet.
2)      Kina selama tujuh hari.
3)      Antibiotik tetrasiklis dan minoksiklin selama tujuh hari
4)      Kombinasi – kombinasi lain seperti kina dan tetrasiklin.
g.      untuk pengobatan lain dilakukan secara umum  (mengatasi hipertermi, syok hipovolemia, anemia, gangguan fungsi ginjal, dan lain – lain) dilakukan sesui indikasi pengobatan yang ada.
  1. KOMPLIKASI
a.       Otak : timbul delirium, disorientasi, stupor, koma, kejang, dan tanda neurologis fokal.
b.      Saluran gastrointestinal : muntah, diare hebat, perdarahan dan malabsorbsi.
c.       Ginjal : nekrosis tubular akut, hemoglobinuria, dan gagal ginjal akut.
d.      Hati : Billous Remitten Fever ditandai dengan muntah hijau empedu karena komplikasi hepar.
e.       Paru : Edema Paru.
f.       Lain – lain : Hipoglikemia, demam kencing hitam  (black water feveR) 
  1. PROGNOSIS
Malaria vivaks prognosis biasanya baik, tidak menyebabkan kematian. Jika tidak mendapat pengobatan, serangan pertama dapat berlangsung selama dua bulan atau lebih. Malaria malariae jika tidak diobati maka infeksi dapat berlangsung sangat lama. Malaria ovale dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Malaria falciparum dapat menimbulkan komplikasi yang menyebabkan kematian.

B.  KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Proses keperawatan merupakan metode sistimatis dimana secara langsung perawat dan klien secara bersama menentukan masalah keperawatan sehingga membutuhkan asuhan keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal dimana asuhan keperawatan juga merupakan faktor penting dalam survival klien. Dalam proses keperawatan terdiri dari 5 (lima) tahap yaitu ; Pengkajian, Perumusan Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi (Gaffar, 1999).
Asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien Malaria dilaksanakan oleh penulis dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari Pengkajian, Perumusan Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan Dan Evaluasi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien yang dilaksanakan secara bio-psiko, sosial dan spiritual dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
  1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal  dari proses asuhan keperawatan. Diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal masalah klien agar dapat memberikan arah kepada tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian.
Munurut Gaffar (1999) mengatakan, pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan, dan terdiri dari tiga tahap yaitu; pengumpulan data, pengelompokan data kedalam data fokus dan menganalisa data guna merumuskan diagnosa.
Pengumpulan data dilakukan mulai klien masuk Rumah Sakit (Initial Assesment), selama klien dirawat secara terus menerus (Ongoing Assesment), serta pengkajian dapat dilakukan ulang untuk menambah dan melengkapi data yang telah ada (Re – assessment).
Pengkajian terdiri dari data dasar yaitu informasi subyektif dan obyektif yang mencakup berbagai masalah keperawatan klien. Data subyektif yang dilaporkan klien dan orang terdekat, informasi ini meliputi persepsi klien. Data obyektif adalah yang diobservasi (secara kualitatif dan kuantitatif) dan dapat diuji oleh orang lain, yang meliputi temuan dari pemeriksaan fisik dan test diagnostik.
Setelah selesai mengumpulkan data, maka selanjutnya data – data yang terkumpul dikelompokan. Pengelompokan data dapat dibagi atas data dasar dan data khusus. Data dasar terdiri dari data fisiologis, data psikologis, data sosial dan data spiritual. Data khusus adalah data yang bersifat khusus, misalkan pemeriksaan Rontgen dan Laboratorium.
Tahapan akhir dari pengkajian adalah analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan. Proses analisa data adalah menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep teori dan prinsip asuhan keperawatan yang relevan dengan kondisi klien.
Evaluasi baik kumpulan data subyektif maupun obyektif mengarah pada identifikasi masalah - masalah atau area dari kebutuhan klien.
Komponen – komponen yang perlu dikaji secara spesifik pada klien Malaria adalah :
1.      Data Dasar Pengkajian Klien
a.       Anmnese awal
Adanya riwayat klien habis bepergian dari daerah yang endemis dengan penyakit malaria.
b.      Aktivitas / Istirahat
Adanya kelemahan, malaise.
c.       Sirkulasi
Tekanan darah normal / dibawah normal  (jika terjaadi penurunan curah jantung) denyut perifer cepat dan lemah,
Kulit ikterik,  hangat, ekstremitas / akral pucat, kapiler refil < 3 detik (penurunan perfusi jaringan perifer (anemia), pucat, kering.
d.      Eliminasi
Ditemukan adanya perubahan warna urine seperti kemerahan hematuria, pada stadium lanjut : hemoglobinuria dan demem kencing hitam (Balck Water Fever), gagal ginjal acut.
e.        Status Nutrisi
Didapatkan anoreksia, mual muntah, penurunan berat badan , penurunan lemak bawah kulit / malnutrisi.
f.        Neurosensori
Adanya sakit kepala, pusing,  pada stadium lanjut timbul delirium, disorientasi, koma, kejang dan tanda neurologis fokal.
g.      Keamanan / kenyamanan
Lokalisasi rasa sakit pada daerah hepar (hipokondria kanan) dan hipokondia kiri (limpa), hepatosplenomegali, nyeri tekan.
h.      Pernapasan
Takipnea pada malaria falciparum, adanya edema paru (komplikasi)  suhu umumnye meningkat ( diatas 370  C), demem, menggigil, berkeringat.
i.         Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium : pemeriksaan darah tepi ; ditemukannya tropozoit berbentuk cincin, pada P. Falciparum sediaan darah tipis terdapat gametosit berbentuk pisang, terdapat bintik maurier. P. Malariae sediaan tipis ; nampak parasit berbenruk pita, skizon berbentuk bunga mawar (rosette). P. Vivaks ; eritrosit yang mengandung parasit membesar, terdapat titik schoffner dari sitoplasmanya berbentuk  ameboid. P.Ovale ; miri P. Vivaks hanya eritrosit yang mengandung parasit berbentuk ovale. Hb dan hematokrit menurun dan leucosit yang meningkat.
2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Adapun diagnosa keperawatan pada klien malaria menurut Maryline E. Doenges (2000) adalah sebagai berikut :
a.             Nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisik / distensi abdomen ( hepatosplenomegali ).
b.             Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi, autolisis sel darah merah .
c.             Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrien ke sel.
d.            Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan, kelemahan dan kelelahan, mengeluh penurunan intoleran aktivitas / latihan.
e.             Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, intake yang tidak adekuat, kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan / absorpsi  nutrien yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal.
f.              Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologis (anemia), gangguan mobilitas, defisit nutrien.
g.             Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder (tidak adekuat ; penurunan hemoglobin leucopenia) atau penurunan granulosit ( respon inflamasi tertekan), pertahanan utama tidak adekuat ; kerusakan kulit, statis cairan tubuh, prosedur invasif, penyakit malaria kronis.
h.             Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang prognosis, ddan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.
3.      RENCANA  ASUHAN KEPERAWATAN
a.    Nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisik / distensi abdomen (hepatosplenomegali, proses inflamasi ).
Tujuan                   : Mengekspresikan penurunan nyeri atau ketidaknyamanan.
Kriteria Hasil         : Klien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan tenang.
Intervensi               :
1)      Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 0 - 10). Perhatikan petunjuk verbal dan non verbal. Rasional : mengidentifikasi derajat ketidak nyamanan dan menentukan tindak lanjut / intervensi yang akan dilakukan.
2)      Bantu klien menemukan posisi yang nyaman. Rasional : menentukan posisi nyaman dalam melakukan tirrah baring sesuai dengan kemampuan / kondisi klien.
3)      Berikan tindakan kenyamanan dasar (perubahan posisi pada punggung atau sisi yang tidak sakit dan pijatan punggung) dan aktivitas terapeutik. Dorong ambulasi dini dan penggunaan tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, sentuhan terapeutik. Rasional : meningkatkan normalisasi fungsi organ, memenurunkan ketidaknyamanan abdomen.
4)      Ajarkan tehnik relaksasi distraksi. Rasional : pengalihan rasa nyeri terhadap kegiatan lain (;mendengarkan musik, membaca) terbukti dapat mengurangi prhatian klien terhadap nyeri yang dirasakan.
5)      Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab nyeri atau ketidaknyamanan. Rasional : pemahaman meningkatkan kerjasama dengan program terapi, meningkatkan penyembuhan dan proses perbaikan.
6)      Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum nyeri berat dan sebelum aktivitas dijadwalkan. Rasional : menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain contoh anbulasi, batuk.
7)      Kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi. Rasional : pemberian obat analgesik yang tebat yang tidak memperberat kerja hati dan ginjal.
b.      Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi, autolisis sel darah merah .
Tujuan                 :  Mendemonstrasikan  suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan, tidak mengalami komplikasi yang berhubungan.
Kriteria Hasil       :  Suhu tubuh dalam batas normal, klien tidak kedinginan, akral hangat, tidak terjadi diaporesis.
Intervensi            :
1)      Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil / diaporesis. Raional :  pola demam dapat membantu diagnosis ; demam thypoid / skarlet demem trjadi secara remitten, demam intermitten diselingi dengan menggigil, demam tinggi dan berkeringat demam malaria. Suhu diatas 38,9 ­­0 C menunjukan proses infeksius.
2)      Pantau suhu lingkungan. Rasional : suhu ruangan harus diubah untuk mendekati suhu normal.
3)      Berikan kompres hangan pada daerah frontal, axila dan lipat paha. Rasional : membantu mengurangi demam dengan langsung mengompres pada daerah hipotalamus dan peredaran darah besar.
4)      Ganti baju bila basah dengan yang menyerap keringat. Rasional : mengurangi kelembaban, meningkatkan penguapan.
5)  Berikan antipiretik sesuai indikasi. Rasional :  digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentral langsung  pada hipotalamus.

c.       Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrien ke sel.
Tujuan            : menunjukan adanya perbaikan perfusi jaringan perifer.
Kriteria Hasil : perfusi adekuat ; tanda fital stabil, membran mukosa warna merah muda, pengisian kapiler baik, haluaran urine adekuat, mental seperti biasa.
Intervensi       :
1)      Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit dan membran mukosa. Rasional : memberikan informasi tentang derajat / keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
2)      Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi jika ada hipotensi.
3)      Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikaasi. Rasional : Vasokontriksi (keorgan vital) menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan klien / kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ).
4)      Hindari penggunaan bantalan penghangat / botol air panas. Rasional : termoreseptor jaringan termal dangkal karena gangguan oksigen.
5)      Kolaborasi awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya ; Hb, Ht, dan jumlah SDM, GDA. Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan atau respon terhadap terapi.
6)      Berikan SDM darah lengkap / Packed, produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat untuk komplikasi tranfusi.  Rasional : meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.
7)      Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. Rasional : memaksimalkan tanspor oksigen ke jaringan.
d.      Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ( pengiriman ) dan kebutuhan, kelemahan dan kelelahan, mengeluh penurunan intoleran aktivitas / latihan.
Tujuan            :  Aktivitas dapat dilakukan secara maksimal
Kriteria Hasil :  Melaporkan peningkatan toleransi aktifitas, menunjukan tanda fisiologis toleransi misal ; nadi, pernapasan, tekanan darah dalam rentang normal pasien.
Intervensi       :
1)      Kaji kemampuan klien untuk melakukan tugas, catata laporan kelelahan, keletihan dan kekesulitan menyelesaikan tugas.
Rasional: Mempengaruhi pilihan intervensi atau bantuan.
2)      Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot.
Rasional : Menunjukan perubahan neurologi karena defisiensi  hemoglobin mempengaruhi keamanan klien / resiko cedera.
3)      Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan dan catat respon terhadap aktivitas.
Rasional : Manifestasi kardio pulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
4)      Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila diindikasikan, pantau dan batasi pengunjung.
Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhab oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan parau.
5)      Ubah posisi pasien secara perlahan dan pantau terhadap pusing. Rasional : hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing berdenyut dan peningkatan resiko cedera.
6)      Gunakan teknik penghematan energi, misal mandi dengan duduk atau duduk untuk melakukan tugas – tugas.
Rasional : mendorong klien melakukan banyak aktivitras dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan.
e.       Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, intake yang tidak adekuat, kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan / absorpsi  nutrien yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal.
Tujuan             : nutrisi dapt terpenuhi
Kriteria Hasil   : menunjukan peningkatan berat badan atau berat badab stabil dengan nilai laboratorium normal. Tidak mengalami tanda malnutrisi.
Intervensi        :
1)      Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai.
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.
2)      Observasi dan catat masukan makanan klien.
Rasional :  Mengawasi  masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
3)      Timbang berat badan tiap hari.
Rasional : Mengawasi penurunan berat bada atau efektivitas intervensi nutrisi.
4)      Berikan makan sedikit dan frekwensi sering dan atau makan diantara waktu makan.
Rasional : Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan dan mencegah distensi gaster.
5)      Observasi dan catat kejadian mual dan muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan.
Rasional : Gejala GI dapat menunjukan efek anemia ( hipoksia ) pada organ.
6)      Berikan dan bantu hygiene mulut yang baik sebelum dan sesudah makan.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi.
7)      Konsultasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet yang  sesuai.
Rasional : Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.
f.                 Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologis (anemia), gangguan mobilitas, defisit nutrien.
Tujuan             : tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria Hasil   : Memprtahankan integritas kulit, mengidentifikasi faktor resiko atau prilaku individual untuk mencegah cedera dermal.
Intervensi        :
1)      Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gtangguan warna, hangat lokal, eritema, ekskoriasi.
Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan immobilisasi. Jaringan dapat menjadi ra[puh dan cendrung untuk infeksi dan rusak.
2)      Ubah posisi secara periodik dan pijat permukaan tulang bila klien tidak bergerak atau di tempat tidur.
Rasional : Meningkatkan vaskularisasi di seluruh area kulit dan membatasi iskemik jaringan atau mempengaruhi hipoksia seluler.
3)      Ajarkan permukaan kulit  kering dan bersih, batasi penggunaan sabunj.
Rasional : Area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan dan meningkatkan iritasi.
4)      Bantu untuk latihan rentang gerak pasif / aktif.
Rasional : Meningkatkan sirkulasi  jaringan dan mencegah statis.
5)      Gunakan alat pelindung, misalnya : kulit domba, keranjang, kasur tekanan udara, pelindung tumit atau siku dan bantal sesuai indikasi. Rasional : Menghindari kerusakan permukaan kulit dengan mencegah atau menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit.
g.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder (tidak adekuat ; penurunan hemoglobin leucopenia) atau penurunan granulosit ( respon inflamasi tertekan), pertahanan utama tidak adekuat ; kerusakan kulit, statis cairan tubuh, prosedur invasif, penyakit malaria kronis.
Tujuan             : Infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil : Mengidentifikasi prilaku untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi. Tidak adanya tanda – tanda infeksi pada luka / demam.
Intervensi        :
1)      Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan klien. Rasional : mencegah kontaminasi silang. Catatan : pasien Malaria dengan komplikasi anemia dapat berisiko akibat flora normal kulit.
2)      Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada prosdur / perawatan luka. Rasional : menurunkan kolonisasi / infeksi bakteri.
3)      Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat.
Rasional : Menurunkan resiko kerusakan kulit / jaringan dan infeksi.
4)      Dorong perubahan posisi / ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam.
Rasional : Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia.
5)      Pantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardi dengan atau tanpa demam.
Rasional : Adanya proses inflamasi / infeksi membutuhkan evaluasi / pengobatan.

6)      Amati eritema / cairan luka.
Rasional : indikator infeksi lokal.
7)      Berikan antiseptik lokal,  antibiotik sistemik.
Rasional : untuk pengobatan proses infeksi.
h.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang prognosis, ddan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan             : Mengerti tentang penyakit dan pengobatan tentang penyakit yang diderita.
Kriteria Hasil : Menyatakan pemahaman proses penyakit, prosedur diagmosis, dan rencana pengobatan.
Intervensi        :
1)      Berikan informasi tentang Malaria. Diskusikan kenyataan bahwa pengobatan malaria tergantung pada tipe malaria dan beratnya penyakit.
Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga  klien dapat membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi.
2)      Jelaskan pada klien tentang penyebab, manifestasi klinis, prognosis dan pengobatan malaria.
Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga  klien dapat membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi.
3)      Beri kesempatan pada klien intuk mengungkapkan perasaan dan pemahamannya tentang penyakit malaria.
Rasional : Mengetahui sejauhmana tingkat pengetahuan klien tentang malaria yang diderita.
4)      Evalyuasi ulang terhadap penkes yang diberikan.
Rasional : Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam mengingat penkes yang diberikan.
5)      Beri support yang positif terhadap tindakan / jawaban yang benar yang dilakukan.
Rasional : meningkatkan mental klien dalam keinginan untuk sembuh.

6)      Diskusikan pentingnya hanya minum obat yang diresepkan.
Rasional : Kelebihan dosisi obat dapat menjadi toksik.
7)      Beri informasi tentang hasil laboratorium yang mengarah pada perbaikan.
Rasional : memberikan gambaran terhadap perkembangan penyakit yang diderita.
4.      PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI
Impementasi mengkomunikasikan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai hasil klien yang diinginkan. Rasional untuk intervensi perlu logis dan dapat dikerjakan, dengan tujuan memberikan perawatan individual. Tindakan mungkin mandiri atau kolaboratif dan mencakup pesanan dari keperawatan, kedokteran dan disiplin ilmu lain, dengan menggunakan kata kerja (misalkan,”instruksikan, demonstrasikan”) memberikan arahan untuk perawat.
Perawat harus merencanakan asuhan dengan klien, kedua individu bertanggung gugat terhadap asuhan tersebut untuk mencapai hasil yang diharapkan. Intervensi tertulis yang membimbing kebutuhan asuhan klien perlu diberi tanggal dan ditanda tangani untuk mengidentifikasikan seseorang yang melakukan dan mengkoordinasikan asuhan keperawatan.
Tahap dokumentasi yaitu suatu tahap dimana tindakan keperawatan yang telah dilakukan baik kepada klien dan keuarga, dicatat dalam catatan perawatan. Pada saat pendokumentasian ini harus lengkap meliputi respon klien, paraf serta nama jelas perawat yang melakukan tindakan. Hal ini penting untuk mempertanggung jawabkan tindakan yang diberikan serta untuk mempermudah komunikasi antara perawat dan tim kesehatan yang lain.
5.      EVALUASI
Evaluasi adalah respon klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian hasil yang diharapkan (yang dikembangkan dalam fase perencanaan dan didokumentasikan dalam rencana keperawatan) adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Fase evaluasi perlu untuk menentukan seberapa baik rencana asuhan keperawatan tersebut berjalan dan bagaimana selama proses yang terus menerus. Revisi rencana perawatan adalah komponen penting dari fase evaluasi.
Pengkajian ulang adalah proses evaluasi terus menerus yang terjadi tidak hanya bila hasil yang diharapkan terjadi pada klien ditinjau ulang atau bila keputusan dibutuhkan apakah klien siap atau tidak untuk pulang. Sebaiknya hal ini adalah ; pemantauan konstan terhadap status klien.
Evaluasi merupakan tahap akhir proses asuhan keperawatan dan juga merupakan alat pengukur keberhasilan dari suatu rencana keperawatan yang dituliskan dalam bentuk catatan perkembangan dalam mencapai tujuan. Setelah implementasi dilaksanakan, perawat mengevaluasi reaksi klien untuk menentukan efektifitas rencana yang telah dibuat.
Didalam proses keperawatan evaluasi terdiri dari evaluasi proses yaitu evaluasi yang diambil dari setiap tindakan keperawatan yang meliputi respon klien dan pengamatan dengan melakukan tindakan keperawatan, evaluasi struktur yaitu evaluasi dari kelengkapan alat-alat yang menunjang terlaksananya tindakan keperawatan, dan selanjutnya evaluasi hasil yaitu evaluasi yang diambil setelah dilakukannya semua tindakan.
Untuk evaluasi yang diharapkan pada klien dengan Marilynn E. Doenges (1999) adalah :
a.       Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
b.      Suhu tubuh dalam batas normal
c.       Peningkatan perfusi jaringan perifer.
d.      Kebutuhan aktivitas sehari – hari terpenuhi mandiri atau dengan bantuan orang lain.
e.       Memberikan kebutuhan nutrisi / cairan.
f.       Mencegah komplikasi
g.      Proses penyakit / prognosis dan program terapi di pahami.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar